Senin, 8 Januari
2018
Pukul 05:00 -
08:00
Ibadah Pagi
Pengantar Ibadah
1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus,
hai segenap batinku! 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala
kebaikan-Nya! (Mazmur 103:1, 2)
Waktu Teduh
Meneduhkan, menenangkan, dan memusatkan hati kepada Tuhan
(1 menit).
Pujian kepada Tuhan
Memuji Tuhan dengan satu lagu pujian yang Anda pilih
sendiri.
Bacaan Alkitab
7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang
menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku
tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka
hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku
ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!,
maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada
hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata
kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman
sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 13
Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu
seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. (Matius
8:7-10, 13)
Pengantar untuk Renungan
Iman yang kokoh dan kerendahan hati selalu berjalan seiring.
Sebab orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan akan mempercayai
ketidakterbatasan Tuhan dan sekaligus menyadari keterbatasan dirinya di hadapan
Tuhan. Kepercayaan dan kesadaran ini akan membawa dirinya untuk menjadi seorang
yang rendah hati. Singkat kata, semakin seseorang beriman kepada Tuhan maka ia
akan semakin rendah hati. Pertumbuhan imannya akan berjalan bersama dengan
pertumbuhan kerendahan hati yang bersangkutan. Atau dapat juga disimpulkan
bahwa orang yang tinggi hati akan sukar untuk disebut sebagai orang yang sungguh-sungguh
beriman kepada Tuhan.
Iman yang berjalan bersama dengan kerendahan hati itulah yang
terlihat di dalam diri perwira tentara Romawi di Kapernaum. Sebagaimana yang
dicatat di dalam Matius 8 yang bersangkutan percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup
bekerja tanpa dapat dibatasi oleh tempat. Di saat yang sama ia juga menyadari
bahwa dirinya tidak layak untuk menerima Yesus yang kuasa-Nya tidak terbatas
itu di rumahnya. Imannya yang berjalan seiring dengan kerendahan hati ini
mendatangkan penghargaan Tuhan Yesus dan membuka pintu pertolongan Tuhan bagi
dirinya.
Pertanyaan untuk Direnungkan
Mengapa orang yang tinggi hati sukar untuk sungguh-sungguh
beriman kepada Tuhan?
Doa Menanggapi Bacaan Alkitab
Tuhan aku menyadari bahwa diriku masih dipenuhi dengan
ketinggian hati. Tidak jarang walaupun dengan mulutku aku berkata bahwa aku
percaya kepada-Mu namun di dalam kenyataan seringkali aku bersikap seakan-akan
diriku tidak memerlukan Engkau. Tuhan ampunilah diriku atas kesombonganku serta
tolonglah aku untuk semakin bertumbuh di dalam iman dan kerendahan hati di
hadapan-Mu.
Aku menyerahkan hidupku di pekan kedua di tahun ini ke dalam
tangan-Mu. Bawalah diriku untuk semakin dekat dengan-Mu. Sertai diriku di
sepanjang hari ini. Ijinkan diriku untuk mengalami kebaikan serta rahmat-Mu di
dalam hidupku. Jauhkan diriku dari segala hal yang jahat dan lindungilah diriku
dari orang yang berniatan buruk. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.
Doa Bapa Kami
9 Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, 10
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. 11
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya 12 dan ampunilah
kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah
kepada kami; 13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi
lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. (Matius 6:9-13)
Waktu Teduh
Meneduhkan hati di hadapan Tuhan (2 menit).
Leksionari untuk Hari Ini
Matius 8
Mazmur 8
Kejadian 15-16